Senin, 18 Januari 2010

Kutitip Surat ini untukmu

Wahai saudaraku marilah kita merenungi sejenak akan kasih sayang ibu, melalui tulisan di bawah ini.

Wahai anakku,
Surat ini datang dari Ibumu yang selalu dirundung sengsara. Setelah berpikir panjang Ibu mencoba untuk menulis dan menggoreskan pena, sekalipun keraguan dan rasa malu menyelimuti diri. Setiap kali menulis, setiap kali itu pula gores tulisan terhalang oleh tangis, dan setiap kali menitikkan air mata setiap itu pula hati terluka.

Wahai anakku!
Sepanjang masa yang telah engkau lewati, kulihat engkau telah menjadi laki-laki dewasa, laki-laki yang cerdas dan bijak! Karenanya engkau pantas membaca tulisan ini, sekalipun nantinya engkau remas kertas ini lalu engkau merobeknya, sebagaimana sebelumnya engkau telah remas hati dan telah engkau robek pula perasaanku.

Wahai anakku..
25 tahun telah berlalu, dan tahun-tahun itu merupakan tahun kebahagiaan dalam kehidupanku. Suatu ketika dokter datang menyampaikan kabar tentang kehamilanku dan semua ibu sangat mengetahui arti kalimat tersebut. Bercampur rasa gembira dan bahagia dalam diri ini sebagaimana ia adalah awal mula dari perubahan fisik dan emosi. Semenjak kabar gembira tersebut aku membawamu 9 bulan. Tidur, berdiri, makan dan bernafas dalam kesulitan. Akan tetapi itu semua tidak mengurangi cinta dan kasih sayangku kepadamu, bahkan ia tumbuh bersama berjalannya waktu.

Aku mengandungmu, wahai anakku! Pada kondisi lemah di atas lemah, bersamaan dengan itu aku begitu gembira tatkala merasakan melihat terjangan kakimu dan balikan badanmu di perutku. Aku merasa puas setiap aku menimbang diriku, karena semakin hari semakin bertambah berat perutku, berarti engkau sehat wal afiat dalam rahimku. Penderitaan yang berkepanjangan menderaku, sampailah saat itu, ketika fajar pada malam itu, yang aku tidak dapat tidur dan memejamkan mataku barang sekejap pun. Aku merasakan sakit yang tidak tertahankan dan rasa takut yang tidak bisa dilukiskan.

Sakit itu terus berlanjut sehingga membuatku tidak dapat lagi menangis. Sebanyak itu pula aku melihat kematian menari-nari di pelupuk mataku, hingga tibalah waktunya engkau keluar ke dunia. Engkau pun lahir. Tangisku bercampur dengan tangismu, air mata kebahagiaan. Dengan semua itu, sirna semua keletihan dan kesedihan, hilang semua sakit dan penderitaan, bahkan kasihku padamu semakin bertambah dengan bertambah kuatnya sakit. Aku raih dirimu sebelum aku meraih minuman, aku peluk cium dirimu sebelum meneguk satu tetes air ke kerongkonganku.

Wahai anakku..
Telah berlalu tahun dari usiamu, aku membawamu dengan hatiku dan memandikanmu dengan kedua tangan kasih sayangku. Saripati hidupku kuberikan kepadamu. Aku tidak tidur demi tidurmu, berletih demi kebahagiaanmu. Harapanku pada setiap harinya, agar aku melihat senyumanmu. Kebahagiaanku setiap saat adalah celotehmu dalam meminta sesuatu, agar aku berbuat sesuatu untukmu, itulah kebahagiaanku! Kemudian, berlalulah waktu. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Selama itu pula aku setia menjadi pelayanmu yang tidak pernah lalai, menjadi dayangmu yang tidak pernah berhenti, dan menjadi pekerjamu yang tidak pernah mengenal lelah serta mendo’akan selalu kebaikan dan taufiq untukmu.

Aku selalu memperhatikan dirimu hari demi hari hingga engkau menjadi dewasa. Badanmu yang tegap, ototmu yang kekar, kumis dan jambang tipis yang telah menghiasi wajahmu, telah menambah ketampananmu. Tatkala itu aku mulai melirik ke kiri dan ke kanan demi mencari pasangan hidupmu. Semakin dekat hari perkawinanmu, semakin dekat pula hari kepergianmu. saat itu pula hatiku mulai serasa teriris-iris, air mataku mengalir, entah apa rasanya hati ini. Bahagia telah bercampur dengan duka, tangis telah bercampur pula dengan tawa. Bahagia karena engkau mendapatkan pasangan dan sedih karena engkau pelipur hatiku akan berpisah denganku.

Waktu berlalu seakan-akan aku menyeretnya dengan berat. Kiranya setelah perkawinan itu aku tidak lagi mengenal dirimu, senyummu yang selama ini menjadi pelipur duka dan kesedihan, sekarang telah sirna bagaikan matahari yang ditutupi oleh kegelapan malam. Tawamu yang selama ini kujadikan buluh perindu, sekarang telah tenggelam seperti batu yang dijatuhkan ke dalam kolam yang hening, dengan dedaunan yang berguguran. Aku benar-benar tidak mengenalmu lagi karena engkau telah melupakanku dan melupakan hakku.

Terasa lama hari-hari yang kulewati hanya untuk ingin melihat rupamu. Detik demi detik kuhitung demi mendengarkan suaramu. Akan tetapi penantian kurasakan sangat panjang. Aku selalu berdiri di pintu hanya untuk melihat dan menanti kedatanganmu. Setiap kali berderit pintu aku manyangka bahwa engkaulah orang yang datang itu. Setiap kali telepon berdering aku merasa bahwa engkaulah yang menelepon. Setiap suara kendaraan yang lewat aku merasa bahwa engkaulah yang datang. Akan tetapi, semua itu tidak ada. Penantianku sia-sia dan harapanku hancur berkeping, yang ada hanya keputusasaan. Yang tersisa hanyalah kesedihan dari semua keletihan yang selama ini kurasakan. Sambil menangisi diri dan nasib yang memang telah ditakdirkan oleh-Nya.

Anakku..
Ibumu ini tidaklah meminta banyak, dan tidaklah menagih kepadamu yang bukan-bukan. Yang Ibu pinta, jadikan ibumu sebagai sahabat dalam kehidupanmu. Jadikanlah ibumu yang malang ini sebagai pembantu di rumahmu, agar bisa juga aku menatap wajahmu, agar Ibu teringat pula dengan hari-hari bahagia masa kecilmu.

Dan Ibu memohon kepadamu, Nak! Janganlah engkau memasang jerat permusuhan denganku, jangan engkau buang wajahmu ketika Ibu hendak memandang wajahmu!! Yang Ibu tagih kepadamu, jadikanlah rumah ibumu, salah satu tempat persinggahanmu, agar engkau dapat sekali-kali singgah ke sana sekalipun hanya satu detik. Jangan jadikan ia sebagai tempat sampah yang tidak pernah engkau kunjungi, atau sekiranya terpaksa engkau datangi sambil engkau tutup hidungmu dan engkaupun berlalu pergi.

Anakku, telah bungkuk pula punggungku. Bergemetar tanganku, karena badanku telah dimakan oleh usia dan digerogoti oleh penyakit. Berdiri seharusnya dipapah, dudukpun seharusnya dibopong, sekalipun begitu cintaku kepadamu masih seperti dulu. Masih seperti lautan yang tidak pernah kering. Masih seperti angin yang tidak pernah berhenti.

Sekiranya engakau dimuliakan satu hari saja oleh seseorang, niscaya engkau akan balas kebaikannya dengan kebaikan setimpal. Sedangkan kepada ibumu. Mana balas budimu, nak!? Mana balasan baikmu! Bukankah air susu seharusnya dibalas dengan air susu serupa?! Akan tetapi kenapa nak! Susu yang Ibu berikan engkau balas dengan tuba. Bukankah Allah ta’ala telah berfirman, "Bukankah balasan kebaikan kecuali dengan kebaikan pula?!" (QS. Ar Rahman: 60) Sampai begitu keraskah hatimu, dan sudah begitu jauhkah dirimu?! Setelah berlalunya hari dan berselangnya waktu?!

Wahai anakku, setiap kali aku mendengar bahwa engkau bahagia dengan hidupmu, setiap itu pula bertambah kebahagiaanku. Bagaimana tidak, engkau adalah buah dari kedua tanganku, engkaulah hasil dari keletihanku. Engkaulah laba dari semua usahaku! Kiranya dosa apa yang telah kuperbuat sehingga engkau jadikan diriku musuh bebuyutanmu? Pernahkah aku berbuat khilaf dalam salah satu waktu selama bergaul denganmu, atau pernahkah aku berbuat lalai dalam melayanimu?

Terus, jika tidak demikian, sulitkah bagimu menjadikan statusku sebagai budak dan pembantu yang paling hina dari sekian banyak pembantumu. Semua mereka telah mendapatkan upahnya!? Mana upah yang layak untukku wahai anakku!

Dapatkah engkau berikan sedikit perlindungan kepadaku di bawah naungan kebesaranmu? Dapatkah engkau menganugerahkan sedikit kasih sayangmu demi mengobati derita orang tua yang malang ini? Sedangkan Allah ta’ala mencintai orang yang berbuat baik.

Wahai anakku!! Aku hanya ingin melihat wajahmu, dan aku tidak menginginkan yang lain. Wahai anakku! Hatiku teriris, air mataku mengalir, sedangkan engkau sehat wal afiat. Orang-orang sering mengatakan bahwa engkau seorang laki-laki supel, dermawan, dan berbudi.

Anakku..
Tidak tersentuhkah hatimu terhadap seorang wanita tua yang lemah, tidak terenyuhkah jiwamu melihat orang tua yang telah renta ini, ia binasa dimakan oleh rindu, berselimutkan kesedihan dan berpakaian kedukaan!? Bukan karena apa-apa?! Akan tetapi hanya karena engkau telah berhasil mengalirkan air matanya. Hanya karena engkau telah membalasnya dengan luka di hatinya, hanya karena engkau telah pandai menikam dirinya dengan belati durhakamu tepat menghujam jantungnya, hanya karena engkau telah berhasil pula memutuskan tali silaturrahim? !

Wahai anakku, ibumu inilah sebenarnya pintu surga bagimu. Maka titilah jembatan itu menujunya, lewatilah jalannya dengan senyuman yang manis, pemaafan dan balas budi yang baik. Semoga aku bertemu denganmu di sana dengan kasih sayang Allah ta’ala, sebagaimana dalam hadits: "Orang tua adalah pintu surga yang di tengah. Sekiranya engkau mau, maka sia-siakanlah pintu itu atau jagalah!!" (HR. Ahmad)

Anakku. Aku sangat mengenalmu, tahu sifat dan akhlakmu. Semenjak engkau telah beranjak dewasa saat itu pula tamak dan labamu kepada pahala dan surga begitu tinggi. Engkau selalu bercerita tentang keutamaan shalat berjamaah dan shaf pertama. Engkau selalu berniat untuk berinfak dan bersedekah. Akan tetapi, anakku! Mungkin ada satu hadits yang terlupakan olehmu! Satu keutamaan besar yang terlalaikan olehmu yaitu bahwa Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, "Wahai Rasulullah, amal apa yang paling mulia? Beliau bersabda: "Shalat pada waktunya", aku berkata: "Kemudian apa, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Berbakti kepada kedua orang tua", dan aku berkata: "Kemudian, wahai Rasulullah!" Beliau menjawab, "Jihad di jalan Allah", lalu beliau diam. Sekiranya aku bertanya lagi, niscaya beliau akan menjawabnya. (Muttafaqun ‘alaih)

Wahai anakku!! Ini aku, pahalamu, tanpa engkau bersusah payah untuk memerdekakan budak atau berletih dalam berinfak. Pernahkah engkau mendengar cerita seorang ayah yang telah meninggalkan keluarga dan anak-anaknya dan berangkat jauh dari negerinya untuk mencari tambang emas?! Setelah tiga puluh tahun dalam perantauan, kiranya yang ia bawa pulang hanya tangan hampa dan kegagalan. Dia telah gagal dalam usahanya. Setibanya di rumah, orang tersebut tidak lagi melihat gubuk reotnya, tetapi yang dilihatnya adalah sebuah perusahaan tambang emas yang besar. Berletih mencari emas di negeri orang kiranya, di sebelah gubuk reotnya orang mendirikan tambang emas.

Begitulah perumpamaanmu dengan kebaikan. Engkau berletih mencari pahala, engkau telah beramal banyak, tapi engkau telah lupa bahwa di dekatmu ada pahala yang maha besar. Di sampingmu ada orang yang dapat menghalangi atau mempercepat amalmu. Bukankah ridhoku adalah keridhoan Allah ta’ala, dan murkaku adalah kemurkaan-Nya?

Anakku, yang aku cemaskan terhadapmu, yang aku takutkan bahwa jangan-jangan engkaulah yang dimaksudkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: "Merugilah seseorang, merugilah seseorang, merugilah seseorang", dikatakan, "Siapa dia, wahai Rasulullah?, Rasulullah menjawab, "Orang yang mendapatkan kedua ayah ibunya ketika tua, dan tidak memasukkannya ke surga". (HR. Muslim)

Anakku,
Aku tidak akan angkat keluhan ini ke langit dan aku tidak adukan duka ini kepada Allah, karena sekiranya keluhan ini telah membumbung menembus awan, melewati pintu-pintu langit, maka akan menimpamu kebinasaan dan kesengsaraan yang tidak ada obatnya dan tidak ada dokter yang dapat menyembuhkannya. Aku tidak akan melakukannya, Nak! Bagaimana aku akan melakukannya sedangkan engkau adalah jantung hatiku. Bagaimana ibumu ini kuat menengadahkan tangannya ke langit sedangkan engkau adalah pelipur laraku. Bagaimana Ibu tega melihatmu merana terkena do’a mustajab, padahal engkau bagiku adalah kebahagiaan hidupku.

Bangunlah Nak! Uban sudah mulai merambat di kepalamu. Akan berlalu masa hingga engkau akan menjadi tua pula, dan al jaza’ min jinsil amal, "Engkau akan memetik sesuai dengan apa yang engkau tanam" Aku tidak ingin engkau nantinya menulis surat yang sama kepada anak-anakmu, engkau tulis dengan air matamu sebagaimana aku menulisnya dengan air mata itu pula kepadamu.

Wahai anakku, bertaqwalah kepada Allah pada ibumu, peganglah kakinya!! Sesungguhnya surga di kakinya. Basuhlah air matanya, balurlah kesedihannya, kencangkan tulang ringkihnya, dan kokohkan badannya yang telah lapuk.Anakku, Setelah engkau membaca surat ini,terserah padamu! Apakah engkau sadar dan akan kembali atau engkau ingin merobeknya.

Wassalam,
Ibumu

Kisah Aku

Namaku angel, orang tuaku berharap agar aku bisa menjadi malaikat. Ya, aku memamg angel, tapi dark angel. Akan ku ceritakan kisahku. Aku adalah anak tunggal dari sebuah keluarga yang miskin harta dan miskin hati.
Aku mulai mengenal kejamnya dunia sejak umur 6th. Saat itu rumah tangga orang tuaku mulai tidak harmonis. Mereka mulai ribut masalah kecil yang seharusnya tidak perlu di ributkan. Mereka bertengkar tanpa peduli aku mendengar dan mengetahui masalah tersebut. Kala itu sering aku hanya menangis sedih, sehingga aku tidak bisa berkonsentrasi di pelajaran. Di sekolah aku menjadi orang yang pemurung, cengeng, gampang di jahili orang dan tak punya teman. Lengkaplah semuanya, aku merasa sangat menderita, kesepian, tidak di inginkan.
Ketika suatu hari guru sd ku bertanya apakah ada di antara kalian yang pernah mendengar orang tua kalian bertengkar maka dengan polosnya ku jawab hampir setiap hari mereka bertengkar. Dan sang guru pun bertanya tentang alasan pertengkaran mereka, dan dengan polosnya ku ceritakan semuanya sambil menangis dan sang guru segera membelai rambutku dengan penuh rasa iba.
Mereka semakin lama semakin sering bertengkar. Akhirnya setelah selama 4th melihat mereka bertengkar hatiku mati rasa, aku mulai belajar yang giat. Dan ternyata aku bisa berprestasi, namun sayang hal tersebut tidak membuat petengkaran mereka mereda. Ketika masuk kelas 5sd aku termasuk anak yang pintar tapi tanpa teman. Maka datang sekelompok anak2 bodoh yang mau menjadi temanku sekaligus memamfaatkan aku. Saat itu aku sadar mereka bukan ingin menjadi temanku, tapi mereka ingin memamfaatkan kepintaranku untuk membantu mereka. Namun aku juga sadar bahwa aku butuh teman. Maka ku terima uluran tangan persahabatan mereka. Suatu hari mereka mengajak aku main di rumah mereka, aku pun setuju. Ternyata mereka bukan cuma bodoh, tapi juga bergaul dengan preman. Karna tidak memiliki teman yang lain maka aku ikut bergaul dengan preman2 tsb. Hal itu berlanjut hingga aku lulus sd.
Setelah lulus SD aku masuk ke SMP favorit, di sini aku hanya memiliki sedikit teman, dan saat liburan aku mulai kerja part time. Saat itu keluarga ku sudah tidak begitu sering bertengkar, namun bukan karna keadaan sudah membaik, namun sebaliknya. Di tempat ku bekerja part time aku bertemu "Dia". Dia sangat ramah dan tampan. Dan dia memperlakukan aku selayaknya ratu. Semua orang mengatakan dia sudah menikah, namun aku tidak percaya. Aku selalu menunggu dia datang, dan di saat menunggu 1jam rasanya 1abad. Aku tergila2 padanya. Akhirnya dia jujur padaku kalau dia memamg sudah menikah. Dia mengatakan bahwa pernikahannya tidak bahagia, dan dia menyayangiku dan tetap memperlakukan aku selayaknya ratu. Aku pun mempercayainya. Lalu saat perpisahan tiba juga. Masa liburanku sudah akan berakhir sehingga aku pun mengucapkan perpisahan padanya untuk terakhir kali. Dan saat itu lha dia menciumku, dengan ciuman gaya orang dewasa. Ciuman pertama dan terakhirku dengannya. Lalu kami pun berpisah. Aku ingin mencarinya namun aku takut dia marah dan tak menginginkanku, sehingga akhirnya aku tidak mencarinya. Namun namanya selalu tersimpan di hatiku bahkan sampai saat ini.
Setelah kembali bersekolah aku pun menjadi seorang yang sangat munafik dan menjijikkan. Di rumah dan sekolah aku selalu berusaha menjadi anak baik2. Namun ketika berjalan2 aku mulai mencuri. Aku mencuri bukan karna menginginkan barang tersebut, namun karna aku menyukai perasaan berdebar2 karna takut ketahuan. Dan saat sial pun tiba, aku tertangkap sewaktu mencuri benda kecil di sebuah toko di pusat perbelanjaan. Namun ketika mereka lengah aku berhasil meloloskan diri. Namun hal tsb tidak membuatku kapok. Aku tetap melanjutkan aksiku saat aku butuh uang atau pun stres. Aku tetap menjadi anak baik di rumah dan di sekolah dan menjadi pencuri di luar. hal itu berlangsung hingga aku lulus SMA.
Masa SMA bahkan lebih kacau dari pada masa SMP, aku memamfaatkan kecantikan dan tubuh mudaku untuk menarik lelaki hidung belang. Aku mengajak mereka ke pusat perbelanjaan, lalu aku minta di belikan ini dan itu. Setelah puas belanja maka aku akan minta di antar pulang.
Kelas 3SMA aku bertemu x, x adalah orang yang baik dan sabar dengan wajah yg lumayan. Maka aku pun jadian dengan x, x juga seorang yang munafik. Dihadapan orang tuaku x bersikap selayaknya pria baik2. Namun saat bersamaku x akan menjadi serigala yang siap menelan anak domba. Saat bersamaku tangannya akan lihai mengerjaiku. Sehingga akhirnya aku menyerahkan harta ku yang paling berharga kepadanya. Lalu aku pun mulai ketagihan, sehingga akhirnya aku hamil. Saat itu aku baru lulus SMA dan x juga belum bejerja. Akhirnya ku gugurkan kandunganku. Namun hal itu ternyata terjadi lagi, aku kembali hamil. Lagi2 x memintaku mengguggurkan kandunganku, namun kali ini ku tolak. Aku minta dia bertangung jawab, namun dia tak mau. Kami bertengkar, lalu dia pergi. Aku kembali mencoba menghubunginya tapi gagal. Lalu aku mencoba mendatangi alamat yang dia berikan. Dan ternyata dia sudah pindah. Saat itu aku baru sadar kalau aku sama sekali tidak tahu apapun tentang dia. Dalam keadaan putus asa ku coba jujur pada orang tuaku. Betapa marah dan kecewanya mereka. Ibu langsung terkena serangan jantung. Ayah langsung membawanya ke rs, namun sayang semuanya sia-sia. Ibu meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku sangat sedih, aku merasa aku lha yang telah membunuh ibuku. Apalagi detik itu juga ayah mengatakan mulai detik tersebut aku bukan lha anaknya, dan aku di larang menghadiri pemakaman ibuku. Saat itu perasaan ku bercampur aduk. Aku berlutut dan memohon maaf pada ayah, namun keputusannya sudah bulat.
Akhirnya aku keluar dari rumah tanpa membawa apapun. Saat itu aku tidak tau mau kemana dan melakukan apa. Perasaanku campur aduk. Aku hanya terus berjalan, hingga akhirnya aku sampai ke sebuah jembatan, yang di bawahnya ada sungai. Melihat air di sungai itu membuatku berfikir untuk menebus dosa dengan nyawaku. Aku pun segera naik ke atas jembatan ,tapi tepat saat aku akan melompat, tiba2 ada tangan yang memegang tubuhku hingga aku jatuh ke jembatan. Ternyata yg menyelamatkan nyawaku adalah S. S lalu bertanya tentang masalahku, dan aku menceritakannya. Lalu aku menangis di pelukannya. Dan aku merasa hatiku sudah sedikit membaik. Lalu S menyuruhku tinggal di rumahnya sementara sampai aku dapat kerja. Lalu aku pun bertanya tentang dia. Dia pun menceritakan kalau istrinya sudah lama kabur bersama lelaki lain. Aku merasa bersalah dan meminta maaf. Namun dia tidak ingin aku minta maaf, karna menurutnya itu sudah cerita masa lalu. Dia juga menemaniku pergi ke makam ibuku setelah acara pemakaman usai. Dan setelah sebulan aku tinggal bersamanya mulai tersiar kabar miring. Bahwa aku adalah simpanan s. Padahal s memperkenalkan aku sebagai adik sepupunya. Warga meminta S mengambil sikap antara mengusirku atau menikahiku. Dan S memilih menikahiku, betapa terkejutnya aku mendengar jawaban S. Warga pun setuju dan mengatakan bahwa 3hari lagi kami akan menikah. Lalu warga pun kembali ke rumahnya masing2. Lalu aku mengatakan pada s bahwa besok aku akan meningalkan rumahnya, s menanyakan apakah dirinya tidak pantas untuk menjadi ayah dari bayi yang sedang ku kandung. Dan aku pun mengatakan bukan kamu yang tak pantas, tapi aku yang terlalu menjijikkan untukmu. Lalu s meyakinkan ku bahwa dia bisa menerima anak tersebut dan anak ku membutuhkan ayah. Akhirnya kami menikah. Aku berharap mulai sekarang aku bisa menata hidupku dari awal. Aku akan berusaha mencintai S, dan setelah bayiku lahir aku akan mencoba meminta maaf lagi pada ayah.